Namun, sayangnya sang tokoh tidak menjelaskan lebih lanjut sikap pasrah pada kebenaran yang seperti apa yang ia maksud, sehingga persoalan menjadi tidak jelas alias kabur dan membingungkan. Kelihatannya sang tokoh ini ingin sekali mengembangkan madzhab teologi plularisnya yang merupakan hasil rekayasa atau penemuannya melalui pernyataannya tersebut.
Yang lebih parah lagi sang tokoh menyatakan bahwa pernyataan tersebut merupakan pendapat yang dia dikutip dari alm. prof. Dr. Hamka tanpa menyebutkan di mana, kapan atau dalam buku apa alm. prof. Dr. Hamka menyebutkan hal itu. Kami kuatir jangan-jangan ini merupakan ulah licik sang tokoh dalam menyebar-luaskan kebingungan dan kesesatan dengan menggunakan atau memanipulasi nama besar alm. Prof. Dr. Hamka yang terkenal sebagai salah seorang 'ulamâ' di negeri ini. Alm. Prof. Dr. Hamka sendiri pernah mengatakan : "Kata Islâm adalah mashdar, asal kata". (Lihat Tafsir Al-Azhar juz III hal. 160). Tentu yang dimaksud beliau ialah mashdar atau asal-kata dari kata "Aslama".
Sedangkan definisi mashdar menurut para 'ulamâ' ahli lughah (bahasa) adalah :
"Nama (Isim) yang -- menjadi sumber -- pengambilan dan timbulnya kata kerja (fi'il)".
Berdasarkan pengertian ini, maka "Islâm" sebagai mashdar, berarti nama atau isim bagi fi'il (kata kerja) "Aslama". Berarti "Islâm" itu sendiri adalah nama (isim). Jadi, ucapan sang tokoh bahwa "Islâm" bukan nama agama adalah tidak benar sama-sekali alias ngawur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar